Senin, 26 Mei 2014

Apa yang kalian cari di Jakarta ?


Siapa yang tidak tahu dengan kota Jakarta ? ya, jakarta sebagai ibu kota Negara indonesia, kota metropolitan dikelilingi oleh gedung-gedung bertingkat yang mengundang hasrat untuk mengadu nasib di ibu kota.

Jakarta menjadi pusat segala peradaban yang terjadi di Indonesia. Masyarakat Indonesia memandang Jakarta sebagai tambang emas, karena semuanya ada di Jakarta. Oleh karena itu banyak para urban berbondong-bondong ke kota ini dengan tujuan dapat merubah kondisi perekonomian di desa.

Tapi apa yang terjadi ? apakah mereka semua yang jauh-jauh dari kampong halamannya pergi ke Jakarta mendapatkan apa yang mereka impi-impikan ? jawabannya adalah “Tidak Semua” apalagi untuk orang-orang yang tidak mempunyai keahlian dalam bidang tertentu. Mereka yang tidak mempunyai keahlian tertentu untuk masih bisa bertahan hidup di Jakarta hanya bisa mengandalkan ‘pekerjaan’ seadanya dengan cara menjadi seorang pedagang kali lima (PKL), pedagang asongan, buruh pabrik, tukang semir sepatu bahkan menjadi seorang pengemis, pemulung dan pengamen. Apakah semua itu yang mereka mau ? tentu saja tidak, mereka hanya berpikir apabila pergi ke Jakarta mereka akan hidup mewah, bisa menjadi artis dan merubah nasib mereka agar lebih baik lagi. Lalu dimana mereka tinggal? Mari kita lihat, dimana para urban ini tinggal
rumah di kolong jembatan
Apakah ini yang namanya merubah kondisi perekonomian dulu di desa ? tidak, bahkan menurut saya ini lebih buruk, mereka tinggal di tempat yang memang benar-benar tidak layak huni. Lalu mengapa mereka masih betah tinggal di Jakarta ? 

Setiap tahunnya penduduk kota Jakarta semakin bertambah banyak dengan adanya urbanisasi yang datang ke Jakarta, apalagi setelah lebaran atau libur panjang mereka (para urban) membawa sanak-sodara untuk tinggal bersama mereka di Jakarta. Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta 2010 mengatakan bahwa jumlah penduduk Jakarta bertambah sebanyak 134.234 jiwa per tahun. Padahal dari data yang ada Menurut hasil sensus nasional terakhir, ibu kota dihuni oleh hampir 9,6 juta orang melebihi proyeksi penduduk sebesar 9,2 juta untuk tahun 2025. Populasi kota ini adalah 4 persen dari total penduduk negara, 237.600.000 orang.



Dengan angka-angka ini, kita dapat melihat bahwa populasi kota telah tumbuh 4,4 persen selama 10 tahun terakhir, naik dari 8,3 juta pada tahun 2000. Apa yang dikatakan angka-angka ini? Ibukota telah kelebihan penduduk.Pada tingkat ini, Jakarta memiliki kepadatan penduduk 14.476 orang per kilometer persegi.

Dengan adanya pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat, ini sangat mempengaruhi keadaan social dan yang paling penting adalah keadaan ekonomi. Sebagai akibatnya, para pembuat kebijakan kota perlu merevisi banyak target pembangunan kota ini, termasuk penciptaan lapangan kerja, ketahanan pangan, perumahan, kesehatan dan infrastruktur, sebagai peredam masalah pada saat kota sudah mengalami kepadatan penduduk yang sangat menghawatirkan.
Beberapa dampak yang terjadi dalam pertambahan penduduk di Indonesia, khususnya untuk Ibu Kota Jakarta, antara lain :
1.      Kemacetan


2.      Minimnya lapangan pekerjaan


3.      Banyaknya angka pengangguran


4.      Harga sembako naik drastic

Untuk menanggulangi jumlah pertambahan penduduk di ibu kota, maka pemerintah DKI Jakarta yang dipimpin oleh Bapak Gubernur Jokowi Dodo dan wakilnya Bapak Basuki Tjahja Purnama dibantu dengan Lembaga Pemerintahan di DKI memberikan beberapa Solusi untuk mengtasi membludaknya penduduk di daerah Jakarta adalah :
1. Mencanangkan Program Keluarga Berencana untuk mengatasi mebludaknya penduduk di DKI Jakarta.
2. Menciptakan Lapangan Pekerjaan untuk mengurangi pengangguran dan mengatasi kemiskinan
3. Mengurangi Perpindahan penduduk dari Daerah ke DKI Jakarta
4. Menambah Jalur Alternatif seperti Busway untuk mencegah terjadinya kemacetan
5. Menerapkan usia kendaraan yang layak beroperasi khusunya bagi Angkutan Umum.
6. Menambah Jalur Khusus untuk Roda 2 dan Roda 4 agar kemacetan dapat dikurangi.

Semoga dengan beberapa solusi yang di tawarkan tersebut dapat terlaksana dengan baik jika Pemerintah DKI dan Masyarakatnya mau bekerja sama, agar terciptanya masyarakt yang lebih berkualitas dari sebelumnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar