Siapa yang tidak tahu dengan kota Jakarta ? ya, jakarta
sebagai ibu kota Negara indonesia, kota metropolitan dikelilingi oleh
gedung-gedung bertingkat yang mengundang hasrat untuk mengadu nasib di ibu
kota.
Jakarta menjadi pusat segala peradaban yang terjadi di
Indonesia. Masyarakat Indonesia memandang Jakarta sebagai tambang emas, karena
semuanya ada di Jakarta. Oleh karena itu banyak para urban berbondong-bondong
ke kota ini dengan tujuan dapat merubah kondisi perekonomian di desa.
Tapi apa yang terjadi ? apakah mereka semua yang
jauh-jauh dari kampong halamannya pergi ke Jakarta mendapatkan apa yang mereka
impi-impikan ? jawabannya adalah “Tidak Semua” apalagi untuk orang-orang yang
tidak mempunyai keahlian dalam bidang tertentu. Mereka yang tidak mempunyai
keahlian tertentu untuk masih bisa bertahan hidup di Jakarta hanya bisa
mengandalkan ‘pekerjaan’ seadanya dengan cara menjadi seorang pedagang kali
lima (PKL), pedagang asongan, buruh pabrik, tukang semir sepatu bahkan menjadi
seorang pengemis, pemulung dan pengamen. Apakah semua itu yang mereka mau ?
tentu saja tidak, mereka hanya berpikir apabila pergi ke Jakarta mereka akan
hidup mewah, bisa menjadi artis dan merubah nasib mereka agar lebih baik lagi.
Lalu dimana mereka tinggal? Mari kita lihat, dimana para urban ini tinggal
![]() |
| rumah di kolong jembatan |
Apakah ini yang namanya merubah kondisi perekonomian
dulu di desa ? tidak, bahkan menurut saya ini lebih buruk, mereka tinggal di
tempat yang memang benar-benar tidak layak huni. Lalu mengapa mereka masih
betah tinggal di Jakarta ?
Setiap tahunnya penduduk kota Jakarta semakin bertambah
banyak dengan adanya urbanisasi yang datang ke Jakarta, apalagi setelah lebaran
atau libur panjang mereka (para urban) membawa sanak-sodara untuk tinggal
bersama mereka di Jakarta. Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta 2010 mengatakan bahwa
jumlah penduduk Jakarta bertambah sebanyak 134.234 jiwa per tahun. Padahal dari
data yang ada Menurut hasil
sensus nasional terakhir, ibu kota dihuni oleh hampir 9,6 juta orang melebihi
proyeksi penduduk sebesar 9,2 juta untuk tahun 2025. Populasi kota ini adalah 4 persen
dari total penduduk negara, 237.600.000 orang.
Dengan
angka-angka ini, kita dapat melihat bahwa populasi kota telah tumbuh 4,4 persen selama 10
tahun terakhir, naik dari 8,3 juta pada tahun 2000. Apa yang dikatakan angka-angka ini? “Ibukota telah kelebihan
penduduk.” Pada tingkat ini, Jakarta memiliki kepadatan penduduk 14.476 orang per kilometer
persegi.
Dengan adanya pertumbuhan penduduk yang semakin
meningkat, ini sangat mempengaruhi keadaan social dan yang paling penting
adalah keadaan ekonomi. Sebagai akibatnya, para pembuat
kebijakan kota perlu merevisi banyak target
pembangunan kota ini, termasuk penciptaan lapangan kerja, ketahanan
pangan, perumahan, kesehatan dan infrastruktur, sebagai peredam masalah pada saat kota sudah mengalami kepadatan penduduk yang sangat menghawatirkan.
Beberapa dampak yang terjadi dalam pertambahan penduduk di Indonesia,
khususnya untuk Ibu Kota Jakarta, antara lain :
1.
Kemacetan
2.
Minimnya lapangan pekerjaan
3.
Banyaknya angka pengangguran
4.
Harga sembako naik drastic
Untuk menanggulangi jumlah pertambahan penduduk di ibu kota, maka pemerintah
DKI Jakarta yang dipimpin oleh Bapak Gubernur Jokowi Dodo dan wakilnya Bapak
Basuki Tjahja Purnama dibantu dengan Lembaga Pemerintahan di DKI memberikan
beberapa Solusi untuk mengtasi membludaknya penduduk di daerah Jakarta adalah :
1. Mencanangkan Program Keluarga Berencana untuk mengatasi mebludaknya
penduduk di DKI Jakarta.
2. Menciptakan Lapangan Pekerjaan untuk mengurangi pengangguran dan
mengatasi kemiskinan
3. Mengurangi Perpindahan penduduk dari Daerah ke DKI Jakarta
4. Menambah Jalur Alternatif seperti Busway untuk mencegah terjadinya
kemacetan
5. Menerapkan usia kendaraan yang layak beroperasi khusunya bagi Angkutan
Umum.
6. Menambah Jalur Khusus untuk Roda 2 dan Roda 4 agar kemacetan dapat
dikurangi.
Semoga dengan beberapa solusi yang di tawarkan tersebut dapat terlaksana
dengan baik jika Pemerintah DKI dan Masyarakatnya mau bekerja sama, agar
terciptanya masyarakt yang lebih berkualitas dari sebelumnya.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar